Saturday, February 21, 2009

IBU HAMIL & DIET

Boleh-boleh saja diet asal demi kebaikan ibu maupun janin. Yang pasti, kuantitas dan kualitas asupan makan ibu hamil harus lebih baik ketimbang wanita tak hamil.

Diet saat hamil dengan harapan tubuh tak kelewat melar, sebaiknya dihindari. Justru menurut dr. Ali Sungkar SpOG, ibu hamil mesti makan dengan porsi dua kali lebih banyak ketimbang wanita biasa. "Bukan hanya dari segi kuantitas, namun juga kualitasnya. Artinya, saat makan, harus memperhitungkan nilai gizi makanan yang dikonsumsi. Baik bagi diri sendiri maupun janin dalam kandungannya." Bahkan, lanjut ginekolog dari Subbagian Fetomaternal Bagian Kebidanan FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, dalam keadaan overweight/obesitas pun, ibu hamil tetap tak disarankan melakukan diet khusus mengingat pola makannya tak boleh kelewat berbeda dengan ibu hamil berbobot normal. "Sebab, ibu hamil yang overweight tetap memerlukan kalori untuk dirinya dan juga janinnya." Hanya saja dalam pemeriksaan rutin di mana penambahan BB ibu dan pertumbuhan janin dipantau, ibu hamil dengan obesitas akan menghadapi beberapa kendala karena adanya penumpukan lemak. Oleh sebab itu dibutuhkan berbagai alat bantu, di antaranya USG.

Lagi pula, tambah Ali, "Jangankan berdiet, saat hamil muda umumnya ibu hamil justru kehilangan/kurang nafsu makan akibat berlimpahnya hormon hCG (human Chorionic Gonadotropin)." Hormon ini mempengaruhi saluran cerna yang selanjutnya memperlambat gerakan/mobilitas usus, hingga pengosongan lambung pun jadi lebih lama. Akibatnya, terbentuklah gas. Itu sebabnya keluhan mual (morning sickness) lebih sering terjadi di pagi hari dan ketika diisi sarapan, ibu hamil malah mual bahkan muntah-muntah.

Kendati demikian, ibu harus "melawan" perasaan itu karena organ-organ vital janin justru terbentuk pada trimester awal. Otak, umpamanya, berkembang pesat pada minggu ke-9. Nah, jika ibu hamil malas makan, bisa-bisa perkembangan janin terhambat. "Jadi, meski muntah-muntah, coba atasi dengan makanan dalam bentuk kering, porsi kecil, namun frekuensi pemberiannya sering agar kebutuhan secara keseluruhan bisa tercukupi. Bahkan agar lambungnya tidak kosong sekaligus mengurangi keluhan mual di pagi hari, ibu hamil juga disarankan untuk makan sebelum tidur.

YANG MESTI DIWASPADAI

Diet atau membatasi asupan makanan, kata Ali, baru disarankan dokter kandungan jika ada hal-hal berikut,

*Penambahan BB berlebihan

Penambahan BB yang normal bagi ibu hamil adalah sekitar 10-15 kg. Secara sederhana, hitungannya adalah 3 kg untuk bayi, ari-ari dan air ketuban sekitar 4-5 kg. Sedangkan sisanya adalah penambahan volume dan penambahan lemak yang didepositkan. Kenaikan BB ini umumnya terjadi saat memasuki trimester kedua, kala kehamilan berusia 4 - 6 bulan. Soalnya, di trimester ini biasanya nafsu makan sudah mulai meningkat karena ibu hamil sudah beradaptasi dengan segala perubahan di tubuh. Keluhan mual sudah berlalu seiring dengan pertumbuhan plasenta yang sudah berfungsi penuh. Bersamaan dengan itu, janin mulai tumbuh pesat yaitu 10 gram per hari!

Tubuh ibu juga mengalami perubahan dan adaptasi dengan adanya pembesaran payudara dan mulai berfungsinya rahim serta plasenta. Untuk itu, peningkatan kualitas gizi sangat penting karena pada tahap ini ibu mulai menyimpan lemak dan zat gizi lainnya untuk cadangan sebagai bahan pembentuk ASI saat menyusui kelak. Sedangkan pada trimester ketiga, ketika usia kehamilan mencapai 7 - 9 bulan, dibutuhkan vitamin dan mineral untuk mendukung pesatnya pertumbuhan janin dan pembentukan otak.

Tentu saja penambahan BB yang tidak wajar bisa diawasi dengan kontrol teratur sepanjang usia kehamilan. Yaitu empat minggu sekali di trimester pertama, dua minggu sekali ketika masuk minggu ke-28 kehamilan, dan kemudian seminggu sekali.

Nah, kalau muncul keluhan semisal BB yang berlebih dari semestinya, biasanya akan dianjurkan menjalani pemeriksaan lebih lanjut untuk mencari penyebabnya. Apakah pola makan ibu hamil yang memang berlebihan atau sebab lain. Kalau memang pola makan salah yang jadi penyebabnya, biasanya akan diminta tetap berpegang pada pola makan dengan gizi seimbang agar ibu tidak terlalu gemuk dan bayi tak kelewat besar yang justru bisa menjadi faktor penyulit dalam proses persalinan kelak.

*Preeklampsia

BB yang bertambah kelewat pesat juga bisa dicurigai sebagai preeklampsia. Ada ibu hamil yang mengeluh tak banyak makan tapi bobotnya bertambah 3 kg dalam sebulan. Kalau ini yang terjadi, ujar Ali, jangan-jangan bukan berat janinnya yang bertambah, melainkan ada kemungkinan penambahan cairan dalam tubuh. Terlebih jika tangan dan kaki mengalami bengkak. Besar kemungkinan si ibu mengalami preeklampsia. Untuk itu disarankan melakukan diet dengan mengurangi konsumsi garam.

*Kemungkinan diabetes

Kemungkinan lain jika penambahan BB kelewat drastis adalah ibu mengidap diabetes mellitus. Menurut Ali, diabetes bisa terjadi sebelum ataupun selagi kehamilan. Jika sehari-hari ibu hamil sudah mengidap diabetes, berarti selama ini ia sudah mendapat pengobatan. Yang sering mengkhawatirkan justru diabetes militus gestasional, yakni yang muncul secara tiba-tiba selama kehamilan berlangsung. Sebelum hamil si ibu normal-normal saja dan sesudah kehamilan pun diabetes bisa hilang. Untuk mendeteksi diabetes yang muncul secara tiba-tiba ini, dibutuhkan screening dan dilakukan jika ada kecurigaan berat janin terlalu besar untuk usia kehamilannya. Misalnya, berat janin sudah mencapai 3 kg, padahal usia kehamilan baru 7 bulan.

Screening biasanya dilakukan pada usia kehamilan 20-24 minggu untuk melihat kadar gula darah ibu hamil. Dari hasil pemeriksaan tersebut, ibu hamil akan diklasifikasikan hanya terganggu saja atau sudah masuk ke diabetes mellitus. Pengobatannya pun akan diatur sesuai tingkat gangguannya. "Kalau hanya dengan diet saja gula darahnya bisa jadi normal, tak diperlukan obat-obatan," ujar Ali.

Sebaliknya, bila ibu hamil sudah positif diabetes mellitus, mau tidak mau ia harus mengubah pola makannya dengan menghindari gula dan makanan yang mengandung gula. Selain itu, ia pun disarankan tak mengonsumsi hidrat arang olahan berupa tepung dengan segala produknya serta mengurangi konsumsi lemak dalam makanan sehari-hari, baik lemak binatang, santan, minyak, maupun margarin mengingat tubuh penderita mengalami kelebihan lemak darah. Yang perlu diperbanyak justru konsumsi serat dalam makanan. Khususnya serat yang larut air seperti pektin (terdapat dalam apel), jenis kacang-kacangan, dan biji-bijian yang tidak digoreng.


Perhatikan Komponen Gizi Utama

Berikut rekomendasi Ali untuk menambah asupan tiga komponen gizi utama, yaitu protein, kalsium, dan zat besi selama kehamilan:

*Kebutuhan protein sekitar 60 gram per hari. Berarti sekitar 10 gram di atas rekomendasi wanita tidak hamil usia 25-50 tahun dan 14 gram di atas wanita tidak hamil berusia 19-24 tahun.

Seperti diketahui, pada trimester awal, protein dibutuhkan untuk pembentukan jaringan otak janin. Pada trimester kedua, lebih untuk penambahan volume darah dan persiapan ASI. Sedangkan di trimester ketiga, protein diperlukan untuk pertumbuhan janin yang tengah pesat-pesatnya.

*Kebutuhan kalsium ibu hamil di atas usia 25 tahun sekitar 600-1.200 mg. Kalsium sangat dibutuhkan selama kehamilan untuk pembentukan tulang dan gigi. Namun penyerapan kalsium pun sangat tinggi dalam masa kehamilan. Ketika tubuh kekurangan kalsium, maka tubuh akan mengambil dari cadangan yang ada. Suplemen kalsium dapat diberikan jika nafsu makan ibu hamil kurang atau sehari-harinya si ibu hamil tidak memperoleh gizi yang baik. Namun waspadai juga karena suplemen kalsium dapat mengakibatkan sembelit.

*Kebutuhan zat besi untuk ibu hamil adalah 30 mg per hari. Jika ibu hamil tidak memperoleh cukup zat besi, ia akan mengalami anemia. Ibu hamil yang asupan zat besinya kurang, dapat mengonsumsi suplemen zat besi dosis rendah. Yang patut diketahui, suplemen ini perlu dikombinasi dengan pola makan yang baik karena kelebihan zat besi pun dapat mengganggu penyerapan mineral dalam tubuh, seperti zinc dan tembaga.

No comments:

Post a Comment